Membedah Fenomena Luar Biasa: Guru MI Islamiyah Bangsa Kaji Perbedaan Mukjizat, Sihir, dan Karomah dalam Kitab Jawahirul Kalamiyah

BANGSA, KEBASEN — Memasuki pekan pertama Semester Genap, Dewan Guru MI Islamiyah Bangsa kembali memperkuat fondasi teologis melalui kegiatan rutin "Ngaji Kitab" bersama Ustadz Kholidun Nur Maksum pada hari ini, Kamis, 8 Januari 2026. Fokus kajian kali ini adalah membedah secara spesifik isi Kitab Jawahirul Kalamiyah halaman 17-18 yang membahas tentang batasan antara kebenaran Ilahiyah dan fenomena semu.
Kajian ilmiah ini sangat krusial bagi para pendidik untuk dapat memberikan pemahaman yang benar kepada siswa mengenai batasan kekuasaan Allah yang dititipkan kepada hamba-Nya. Ustadz Kholidun secara mendetail menguraikan klasifikasi perkara luar biasa yang kerap disalahpahami oleh masyarakat awam.
Dalam paparan materinya, Ustadz Kholidun menekankan perbedaan substansial yang tertuang dalam teks kitab:
• Identifikasi Mukjizat vs Sihir: Mukjizat adalah perkara luar biasa yang tidak dapat tertandingi oleh siapa pun, bertujuan memperkuat risalah nabi, dan bersumber dari kesucian jiwa. Sebaliknya, sihir adalah fenomena yang bisa dipelajari, dapat ditandingi oleh sesama pelaku sihir, dan bersumber dari nafsu yang membawa kerusakan.
• Identifikasi Mukjizat vs Karomah: Keduanya merupakan anugerah dari Allah SWT. Namun, Mukjizat selalu disertai pengakuan kenabian (da’wan nubuwwah), sedangkan Karomah tampak pada seorang Wali Allah sebagai bentuk penghormatan tanpa adanya pengakuan sebagai nabi.
Download Kitab: https://s.id/7cbH3
Kepala Madrasah, Bp. Dienullah Fathan Mubiena, S.Pd.I, yang turut hadir dalam kajian tersebut, menegaskan bahwa guru harus memiliki literasi akidah yang tajam. "Agar tetap WIBAWA, guru tidak boleh sekadar tahu kulitnya. Kita harus memahami esensi perbedaan ini agar anak-anak kita tidak terjebak dalam pemikiran mistis yang salah, namun tetap memiliki iman yang kuat terhadap kekuasaan Allah," ungkap beliau di tengah diskusi yang interaktif.
Kajian ini diharapkan dapat membekali dewan guru dalam menyampaikan narasi ISTIMEWA kepada siswa: bahwa kecerdasan intelektual harus selalu bersanding dengan keteguhan iman dan akhlakul karimah yang bersumber dari pemahaman kitab suci yang benar.

